Legenda Gunung Pararawen dan Raja Tiung Gomba, Asal Usul Sumur Ayang di Barito Utara
𝕄𝕖𝕕𝕚𝕒-𝕚𝕨𝕖𝕚𝕝𝕖𝕡𝕦𝕟𝕖𝕨𝕤.𝕚𝕕
𝔻𝕚 𝕜𝕦𝕥𝕚𝕓 𝕕𝕒𝕣𝕚 𝕓𝕖𝕣𝕓𝕒𝕘𝕒𝕚 𝕤𝕦𝕞𝕓𝕖𝕣
MUARA TEWEH – Legenda Gunung Pararawen dan Raja Tiung Gomba merupakan salah satu cerita rakyat yang cukup dikenal masyarakat di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Kisah ini dipercaya berkaitan dengan asal-usul sebuah tempat yang disebut Sumur Ayang di kawasan Gunung Pararawen.
Cerita rakyat tersebut berawal dari seorang pemimpin bijaksana bernama Raja Tiung Gomba yang memimpin masyarakat di wilayah Desa Lemo, di kaki Gunung Pararawen, Kecamatan Teweh Tengah. Meski dikenal sebagai pemimpin yang adil, raja memiliki keinginan besar untuk memiliki seorang anak laki-laki sebagai penerusnya.
Dalam legenda yang berkembang di masyarakat, Raja Tiung Gomba pernah mengucapkan janji kepada seekor buaya putih ghaib yang diyakini sebagai penunggu Sungai Barito. Sang raja berjanji, apabila ia dikaruniai seorang anak perempuan, maka anak tersebut akan diserahkan kepada buaya putih tersebut.
Seiring berjalannya waktu, doa sang raja terkabul. Namun bukan anak laki-laki yang lahir, melainkan seorang putri yang kemudian diberi nama Ayang Sari. Putri tersebut tumbuh menjadi gadis yang cantik dan disayangi oleh masyarakat serta keluarganya.
Ketika Ayang Sari mulai beranjak dewasa, buaya putih ghaib yang dahulu menerima janji Raja Tiung Gomba datang untuk menagih janji tersebut. Sang raja yang tidak tega kehilangan putrinya berusaha menghindari janji itu dengan memindahkan tempat tinggal mereka ke kawasan yang lebih tinggi di Gunung Pararawen.
Namun menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, usaha tersebut tidak berhasil. Suatu hari Putri Ayang Sari menghilang secara misterius. Masyarakat percaya sang putri telah diambil oleh buaya putih ghaib melalui sebuah lubang yang konon menghubungkan Sungai Barito hingga ke puncak Gunung Pararawen.
Lubang tersebut kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai “Sumur Ayang”, yang hingga kini masih sering disebut dalam cerita rakyat setempat.
Legenda ini menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Dayak di Barito Utara dan kerap diceritakan kembali dalam berbagai kegiatan budaya maupun pertunjukan seni untuk memperkenalkan sejarah dan tradisi lokal kepada generasi muda.
Selain sebagai cerita turun-temurun, legenda Gunung Pararawen juga mengandung pesan moral penting, yakni pentingnya menepati janji serta berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu, karena setiap kata yang diucapkan dapat membawa konsekuensi di kemudian hari.(𝕛𝕦𝕝𝕒𝕟𝕕𝕚)