BREAKING NEWS

Legenda Asal-Usul Nama Muara Teweh, Berakar dari Budaya Sungai dan Sejarah Dayak

iweilepunews.id
Muara Teweh – Nama Kota Muara Teweh yang kini dikenal sebagai ibu kota Barito Utara menyimpan kisah legenda yang erat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat Dayak di sepanjang aliran sungai.
Menurut cerita turun-temurun, nama Muara Teweh berasal dari istilah Tumbang Tiwei dalam bahasa Suku Bayan/Dusun Pepas. Kata “tumbang” berarti muara sungai, sedangkan “tiwei” adalah sejenis ikan seluang yang dahulu banyak ditemukan di pertemuan sungai tersebut.
Karena melimpahnya ikan Seluang Tiwei di kawasan itu, masyarakat setempat kemudian menyebut wilayah tersebut sebagai Tumbang Tiwei.

Dalam versi lain dari komunitas Dayak Tewoyan atau Taboyan, istilah yang digunakan adalah Oleng Tiwei, yang juga bermakna muara tempat ikan Tiwei berada. Seiring masuknya pemerintahan kolonial Belanda, penyebutan Tumbang Tiwei mengalami penyesuaian pelafalan hingga akhirnya dikenal sebagai Muara Teweh.

Ada pula versi masyarakat Banjar yang menyebut nama Muara Teweh berasal dari kata “muara” dan “Teweh”, yang dikaitkan dengan wilayah perkebunan lada milik Sultan Sepuh dari Banjar pada masa lampau.

Kota Air di Tepian Sungai Barito
Secara geografis, Muara Teweh dikenal sebagai “kota air”. Letaknya yang berada di tepian Sungai Barito membuat kehidupan masyarakat sangat bergantung pada jalur sungai. Sejak dahulu, banyak rumah warga dibangun mengapung atau bertiang tinggi untuk mengantisipasi banjir musiman yang kerap terjadi.
Budaya sungai menjadi identitas kuat masyarakat Muara Teweh. Aktivitas transportasi, perdagangan, hingga interaksi sosial berkembang di sepanjang aliran sungai yang menjadi urat nadi kehidupan warga.

Tokoh Legenda dan Semangat Perjuangan
Dalam cerita rakyat setempat juga dikenal tokoh perjuangan Tumenggung suropati ,Singan Ninuh, seorang Dayak Taboyan yang diyakini memiliki kesaktian dan berperan dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda dan ada beberapa tokoh penjuang lainnya'  yang tidak muncul ke permukaan, sosok-sosok ini menjadi simbol keberanian dan semangat perjuangan masyarakat Dayak di wilayah tersebut.
Kabupaten Barito Utara sendiri memiliki semboyan daerah, “Iya Mulik Bengkang Turan”, yang dalam Bahasa Tewoyan/Taboyan berarti “jangan berhenti di tengah jalan”. Semboyan ini mencerminkan tekad dan semangat pantang menyerah masyarakatnya.
Hingga kini, Muara Teweh tetap dikenal sebagai daerah yang berakar kuat pada kebudayaan Dayak, tumbuh dan berkembang di sepanjang aliran Sungai Barito, menjaga warisan sejarah sekaligus melangkah menuju masa depan.(Julandi)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar