TIAP HUJAN TURUN, DEPÀN APMS dan GEREJA MUARA TEWEH BANJIR
𝐼𝑊𝐸𝐼𝐿𝐸𝑃𝑈𝑁𝐸𝑊𝑆.𝑖𝑑
Sumber-Tim pewarta/Warga
MUARA TEWEH* – Warga di Jalan depan APMS dan Gereja Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah, kembali dirundung banjir. Setiap kali hujan turun selama tiga minggu terakhir, genangan air langsung masuk ke halaman rumah dan mengancam masuk ke dalam rumah warga.
Kondisi ini muncul setelah adanya kegiatan penimbunan jalan di lokasi tersebut. Ironisnya, keluhan warga yang disampaikan ke Dinas Terkait di Pemkab Barut hingga kini belum mendapat solusi konkret.
“Setiap hujan sudah 3 minggu ini setelah penimbunan jalan depan APMS dan depan gereja selalu banjir bahkan sampai masuk halaman dan dikhawatirkan masuk rumah,” ujar Hj. Nety Herawati, Anggota DPRD Barito Utara dari Partai Nasdem, melalui pesan WhatsApp kepada redaksi TEWENEWS, Jumat (12/6/2026).Hal yang senada juga si sampaikan H.Jawawi S.Hut kepada media,iweilepu news yang mengatakan bahwa arah sebelah jalan depan APMS memang tidak di buat parit dari dulu,yang ada paritnya sebelah jalan nya saja,kata Suami dari Hj.Nety Herawati.
Ini menjadi kritik keras bagi Pemkab Barito Utara. Bagaimana mungkin proyek penimbunan jalan yang mestinya memperlancar akses justru menciptakan bencana banjir baru.Saat ini rakyat bertanya kepada dinas terkait.
Terpisah Ketua Pewarta Barut,Serta tim pewarta barut, Agustian Rajab, menegaskan pihaknya akan mengawal kasus ini sampai tuntas.
“Kami wartawan Pewarta Barut bukan musuh Pemda. Tugas kami menyuarakan kebenaran. Kebenarannya: rakyat bayar pajak, tapi dapatnya banjir. Dinas terkait dapat gaji, tapi tidak ada solusi. Ini preseden buruk, sama seperti persoalan WPR/IPR yang 5 tahun tidak ada Perbupnya,” tegas Agustian Rajab dan tim nya,Julandi.
Pewarta Barut mendesak Pemkab Barito Utara, khususnya dinas terkait, untuk segera turun ke lapangan dan memberikan solusi permanen, bukan tambal sulam.
Ada lima pertanyaan kepada Dianas terkait
Pertama, mana yang bertanggung jawab atas proyek penimbunan jalan depan APMS & Gereja? PUPR, DLH, atau lainnya?
Kedua, Anggaran berapa miliar yang dihabiskan untuk penimbunan yang justru menimbulkan banjir ini?
Ketiga, Siapa konsultan perencana dan kontraktor pelaksana ? Apakah sudah sesuai analisis dampak lingkungan dan drainase?
Yang ke empat Solusi permanen apa yang akan dikerjakan dinas terkait? Kapan mulai dan kapan selesai? Jangan janji “akan dikaji” lagi.
Terakhir yang ke lima, Siapa yang akan bertanggung jawab jika banjir ini sampai merusak rumah warga? Apakah Pemda siap ganti rugi?