Jejak Sejarah Kolonial di Muara Bakah: Kompleks Makam Belanda Masih Menjadi Saksi Masa Lalu
IWEILEPUNEWS.,id
BARITO UTARA – Di tengah rimbunnya kawasan hulu Sungai Barito, terdapat sebuah situs bersejarah yang masih menyimpan jejak masa kolonial Belanda, yakni kompleks makam Belanda atau yang dikenal dengan sebutan kerkhof di Desa Muara Bakah, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara.
Kompleks pemakaman tersebut diyakini merupakan tempat peristirahatan terakhir sejumlah tentara, pegawai, maupun keluarga kolonial Belanda yang pernah beraktivitas di wilayah pedalaman Barito pada masa penjajahan. Hingga kini, keberadaan makam tersebut masih menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang pernah terjadi di kawasan tersebut.
Meski memiliki nilai sejarah yang tinggi, kompleks makam Belanda di Muara Bakah bukan merupakan destinasi wisata ziarah yang dikelola secara resmi. Lokasinya berada di kawasan yang menyatu dengan lingkungan desa dan alam sekitar, sehingga lebih dikenal oleh masyarakat setempat serta pemerhati sejarah.
Keberadaan makam ini juga berkaitan erat dengan sejarah Perang Banjar dan perlawanan rakyat di wilayah Barito terhadap kolonial Belanda pada abad ke-19. Berbagai peninggalan sejarah lain di Muara Teweh dan sekitarnya turut memperkuat catatan perjalanan masa kolonial di daerah tersebut.
Beberapa situs bersejarah yang masih dapat ditemukan di wilayah Barito Utara antara lain bangkai Kapal Perang Onrust di Sungai Barito yang ditenggelamkan pejuang rakyat pada tahun 1859, kawasan bekas markas tentara Belanda di Muara Teweh, serta Monumen Panglima Batur yang dibangun untuk mengenang perjuangan tokoh besar dari tanah Barito melawan penjajah.
Sejumlah warga menilai peninggalan sejarah seperti kompleks makam Belanda di Muara Bakah perlu mendapat perhatian dan pelestarian agar tidak hilang ditelan waktu. Selain sebagai pengingat masa lalu, situs tersebut juga dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda mengenai sejarah daerahnya.
Untuk mengetahui lokasi pasti serta kisah-kisah yang menyertai kompleks makam tersebut, masyarakat biasanya memperoleh informasi dari para tetua adat dan warga setempat yang masih menyimpan cerita sejarah secara turun-temurun.
(julandi)